by: Oriehanna Esesiawati
10 Oktober 2010
tak tik tuk seruan jari-jari mengetuk
menghantui berbagai dugaan dan sapaan angin
selalu menggodai harapan pagi
diserangi ribuan hujan yang mendadak ingin menangis
ilalang yang tak pernah tumbuh di halaman rumah itu makin gersang
terseret umur yang makin menua
kian membusuk
dan akhirnya terbakar
terbuka dua lipatan tangan yang dari tadi menutupi aroma kesedihan
mendongak menuju arah sang siluet yang memadam
tatapan matanya menghilang
terkubur kepedihan terdalamnya
hilang , menghilang
gelap , menuju gelap
aura memanas , dia menghilang di balik gelap
yang menangkap hanya suara tak berwujud
nada-nada dalam lagu yang mematikan
dua langkah tiap detik mengembalikan bayangannya
dengan rapuh dengan meronta berjalan ditengah gelapnya masa
tak mampu lagi meneteskan sebutir saja mutiara
dia tetap berjalan
kelima jari di kanannya merangkat
mencoba menangkap sesuatu didepannya , tapi tak ada sesuatu apapun
dia terjatuh tak mampu bertahan
hanya sebuah bintang kejora memjadi saksi
dan kembalilah kesedihan alam yang sejenak berhenti tadi
membasahi tubuh tak berdaya yang tertidur
walau setiap detik dalam waktu berjalan
dan walaupun ada satu detik dimana waktu berhenti
dua langkah itu takkan pernah hilang
walau gelap dan hujan mencoba
walau tak ada seorangpun yang tau dia ada
tapi jejaknya takkan pudar
jejak yang tertinggal terakhir kali
saat matanya memandang siluet pergi
0 komentar:
Posting Komentar