There is no smile whithout a little pain

Pesona Pendar Malam

Leave a Comment
Oleh: Oriehanna Esesiawati

Tak ada badai tanpa sesuatu yang menyerang
Bahkan hujanpun menyumpahi kehancuran hari yang terpendam sepi
Setitikpun tak ada air yang membeku dengan dinginnya suasana ini
Namun semua tak panas seperti yang terduga saat mendidihnya lautan mimpi

Sayang…
Dedaunan itu pergi tinggalkan kebunnya
Bahkan kau belum sempat menaburkan serbuk penyubur yang tlah kau buat
Tahukah?

Padang pasir dipenuhi hujan yang terlontar dalam benak ini
Tergoresi dengan perang serdadu putih berkelabut galau dalam tiap langkahnya
Tahukah engkau?
Itu lintasan perjalanan dahulu bersama dengan bunga-bunga yang tersenyum setiap harinya

Desahan demi desahan teramat menyakitkan
Untuk terlalu lama waktu yang terbuang percuma
Kata demi kata yang terucap terasa menyekik gundah dengan satu pesona
Dalam alunan melodi yang menyesalkan keadaan sulit di malam ini

Aku bukan fana yang bisa seenaknya kau tiup lalu terbuang
Amarah yang berkobar matikan kondisi yang makin menyusahkan
Aku bukan musik yang bisa kau mati dan hidupkan saat kau butuh
Alunan itu ledakan kepedihan setelah mereka pergi karena tertutupnya mata hatimu

Dedaunan itu terbang menjauh tiap jemari itu menangkapnya kembali
Bahkan lembar-lembar yang tlah tersakiti tak ingin tergenggam olehmu lagi
Bukan aku yang memaksanya berlari sejauh mungkin
Disini menyimpan sebuah jejak tertinggal saat tawa waktu mengisi kekosongan diri

Aku disini, sayang…
Menatap langit malam seakan menyalakan pendar bintang yang pernah hilang
Yang menangkap semua kisah berterbangan penuh kenangan
Takkan pernah mencoba menghalangi perjalanan waktu yang sempat tertunda

Disini, cahaya lilin dan pendar bintang itu selalu ada
Menyelimuti malam dingin penuh hujan penghujung luka
Menatap jejak yang tertinggal perlahan menghilang
Berjalan dengan semua yang menyalahkan aku terkubur sendiri,
Hanya diam
Diam.


Next PostPosting Lebih Baru Previous PostPosting Lama Beranda

0 komentar:

Posting Komentar