There is no smile whithout a little pain

Balada Senja yang Tertunda

Leave a Comment
saat kelopak mata ini membuka mata
secercah kebahagiaan muncul begitu saja
menghampiri hari yang kunantikan
menghampiri kerinduan yang tak kunjung memudar

bibir ini tak hentinya tersenyum
bahkan bunga-bunga yang bermekaran mencoba menyapa
nada ini tak hentinya bersenandung
bahkan hembusan angin mencoba menghidupkan melodi-melodi indah
untukku...

secarik kertas yang tertuliskan untuknya mungkin sudah terbaca
dengan tulisan indah penuh rasa sayang
begitu tulus, menyapanya begitu malu
walaupun hanya dalam sebuah tulisan bersajuk rindu

secarik kertas yang tertuliskan untuknya mungkin sudah terbaca
dengan tulisan polos penuh harap
ketulusan yang dirasakan takkan sia-sia
ketulusan yang dipendam sejak lama takkan sia-sia

bukan pertama kalinya rasa ini menghiasi hari demi hari dengan penuh cinta
bahkan hanya dengan bayangannya,
bahkan hanya dengan paras wajahnya,
semua bisa berubah menjadi begitu indah sekejap mata

namun bukan pertama kalinya, rasa ini mulai merasakan luka
hanya dengan keabaiannya,
hanya dengan ketidaksukaannya,
semua bisa menjadi kesedihan yang melukai hati ini karenanya
dan seolah hawa hujan akan datang
diri ini mulai merasakan gelisah
diri ini mulai merasa takut
bukan karena hujan yang akan turun membasahi hari yang ku anggap cerah
bukan karena awan gelap yang menutupi sinar mentari di pagi yang indah ini

hanya hati ini merasakan kepedihan saat mengingatnya
dan pertanyaan demi pertanyaan mencair memenuhi ruang kosong di pikiran ini
mengapa aku bahagia?
bahkan untuk seseorang yang melukai hati ini sampai hancur?
mengapa harus ku beri dia kesempatan yang bahkan tak pernah dia pinta?
bodoh.

mungkin aku sudah terlalu lama hidup dalam kenangannya
yang selalu tersenyum, bahkan tertawa di depanku
mungkin aku terlalu lama menutup hati ini karenanya
yang selalu menghampiri dan memberiku celah untuk lebih mencintainya

dan kini, langit semakin gelap seakan takkan pernah kembali cerah
meninggalkan langkah kaki yang terhenti
entah harus kemana
dan entah harus berbuat apa

detik demi detik meninggalkan waktu yang semakin larut
menggerakkan langkah demi langkah menuju suasana senja yang kunantikan
berjalan mengikuti irama ombak yang menyapa
dan hembusan angin pantai yang menyamankan
seakan berkata "tak usah gelisah, tak usah menangis"

ku berdiri menghadap mentari sore yang segera menutup hari
langit jingga begitu sempurna menemani sore yang tak ingin segera pergi
titik titik bersinar yang begitu mungil mulai menampakkan diri
tanda gelap akan segera hadir

akankah dia datang?
apa dia akan membiarkan aku menghampiri gelap sendiri?
seketika air mata ini mengalir membasahi pipi
jeritan hati yang mulai mengenang segala kepedihan tentangnya
tentangku

mentari semakin meninggalkan secercah cahaya jingga yang akan berubah menjadi hitam
ku mohon jangan lakukan itu
ku mohon lambatkan waktu hanya untuk saat ini
ku mohon hanya kali ini saja
hanya sampai seseorang yang kusayangi datang

hai mentari yang akan pergi
tak inginkah kau menjadi saksi penantianku selama ini?
tak inginkah kau menjadi bukti kebahagiaan yang sempurna untukku?
biarkan warna jingga ini bertahan lebih lama

namun,
akankah semua menjadi indah?
akankah semua menjadi kebahagiaan?
yang ku tahu semua ini adalah penantian yang tak kunjung berakhir

hai rembulan yang malu-malu menghampiri
tak bisakah kau beritahu jejak yang kutunggu ada dimana?
tak bisakah kau beritahu bayangan yang kunantikan ada dimana?
apakah langkah-langkahnya menuju hatiku?

sepertinya, mentari tak ingin mempertanyakan lagi
dan rembulan tak ingin menjawabnya lagi
ku tetap berdiri
menatap langit yang kini bertebaran bintang-bintang kecil

ku tadahkan wajahku yang kina basah air mata
menghadap semesta yang mulai dingin
menghadap sejuta cahaya bintang yang seakan menghibur
dan seolah berkata,

dia tidak datang
dia tidak datang
dia tidak akan datang
dia tidak akan pernah kembali

entah dari kapan mungkin sudahku tahu jawabannya
tapi masih menunggu
entah dari kapan mungkin sudah ku tahu pastinya
tapi masih menyayanginya

entah sejak kapan pikiran paling jernih ini mulai mengenangnya
setiap kata-kata yang mencoba membunuh rasa ini
setiap sikap yang selalu mencoba mengubur rasa ini
semua datang darinya perlahan-lahan, melukai perasaan ini

pikiran yang paling mengerti ini mulai mengembalikan semua ingatan tentangnya
yang selalu pergi dan tak pernah kembali
yang selalu tak berbicara hal-hal manis tentangku
yang selalu tak membiarkan diri ini berjalan menuju dirinya

dan yang ku yakini ketika mulai berjalan kembali
ku tinggalkan semua kenangan yang ada tentangnya
kembali kepada semesta yang melihat betapa indahnya dirinya dulu
ku tinggalkan semua rasa yang ada untuknya
tenggelam bersama air laut yang dingin

jejak kaki ini berjalan menangis merelakannya selamanya
dan biarkan bayangan ini mati bersama kenangan tentangnya
biarkan bayangan yang sangat menyayanginya ini pergi bersama gelapnya malam
dan jangan kembali

karena sosok yang lemah ini
mulai merasakan waktu semakin sempit
dunia mulai terasa asing
dan sudah waktunya mengucapkan selamat tinggal

karena sosok yang tak berdaya ini
terkubur penuh tangis
mengakhirinya dengan mencintai seseorang yang tak pernah mengharapkannya
terkubur bersama senja yang tertunda
Next PostPosting Lebih Baru Previous PostPosting Lama Beranda

0 komentar:

Posting Komentar