Hai, kamu.
Bagaimana kabarmu? Apakah kamu bahagia disana? Apakah mata kuliah terasa berat untukmu?
Ku harap tidak.
Hai, kamu.
Maukah kau menanyakan kabarku, bahkan untuk sekali saja? Tak inginkah kau bertanya tentang perasaan ini? Apakah baik-baik saja, apakah masih terluka, apakah sudah berpaling? Hanya sekali saja... Sekali saja, di waktu yang tepat.
Karena setidaknya, aku merasa kamu pernah mengkhawatirkanku walau hanya sekali.
Karen setidaknya, aku merasa kamu pernah memikirkanku, walau hanya sekali.
Hai, kamu.
Ingin ku harapkan kehadiranmu
Walau tak mungkin
Ingin ku harapkan kesungguhanmu
Walau tak mungkin
Hai, kamu.
Jika pertanyaan itu akan kau tanyakan saat ini, aku akan menjawabnya sambil menangis. Menangis merindukanmu. Karena jawabanku sudah pasti aku berusaha untuk menjadi baik-baik saja, karena dengan melihatmu saja begitu menyakitkan. Apa aku sudah menemukan penggantimu? Hai, kamu... Bahkan untuk merasakan jatuh cinta lagi terasa begitu menakutkan, terasa menyesakkan ketika nantinya akan merasakan rasa sakit yang sama seperti yang pernah ku rasakan terhadap perasaan ini, perasaan yang ada untukmu. Karena semua usaha yang kamu gunakan untuk menjauhiku, karena alasan yang kamu gunakan untuk menjauhiku, masih sangat tak ku mengerti. Kenapa? Kenapa?
Karena ketika kamu menanyakan pertanyaan itu saat ini, mungkin aku akan menanyakan seribu pertanyaan kepadamu. Mengapa semudah itu menjauhiku?
Hai kamu, yang tercinta saat ini
Aku hanya berharap kamu takkan pernah datang di hadapanku sampai saatnya tiba. Aku hanya berharap waktu dapat memperlambat pertemuanku denganmu nanti, ketika semua sudah bisa ku kendalikan.
Hai, kamu.
Datanglah ketika jantung ini tak berdetak cepat hanya ketika melihatmu di depanku. Datanglah ketika bahkan di depanmu, aku dapat membahas segala hal yang ku mau dan tidak merasa gugup sama sekali. Datanglah dan tanyakan pertanyaan itu, dan saat itu aku akan menjawabnya dengan tersenyum. Aku baik-baik saja, aku tak merasa terluka lagi. Bagiku, semua itu hanya masa lalu, kesakitan di masa muda yang membuatku belajar untuk menerima dan memberi kesempatan kepada seseorang yang sungguh-sungguh mencintaiku.
Hai, kamu.
Kamu, seseorang yang sangat tercinta. Ternyata hampir 7 tahun perasaan ini ada untukmu yang entah ada dimana. Entah kenapa, aku sedikit mengagumi betapa hebatnya diri ini menyayangimu selama ini. Mungkin aku benar-benar menyayangimu, atau mungkin aku belum menemukan seseorang yang pantas selain dirimu menempati hati ini. Hati yang takkan bertanya mengapa aku menyukaimu, hati yang takkan pernah merasa kecewa dengan semua kelakuan jelekmu.
Dan ketika hati ini memiliki pemilik baru, aku akan tersenyum bahagia di depanmu, tanpa ragu-ragu, mengucapkan terima kasih dan selamat tinggal.
0 komentar:
Posting Komentar