Aku memandanginya
Mengamati gerakannya perlahan-lahan
Ia terus bergerak, dengan pasti, tanpa ragu
Tak bisakah dia berhenti sejenak
Apakah ia tak lelah?
Aku memandanginya dengan harap
Tak inginkan tangis ini pecah
Aku memandanginya lalu menunduk
Berharap belas kasihnya
Semakin kucoba terus memandangnya
Semakin diri ini cemas
Semakin hati ini gelisah
Enggan untuknya memberi sedikit kasih
Teriakan dalam diri mulai terdengar
Isakan tangis hati ini tak bisa terbendung lagi
Tak semudah itu memohon padanya
Untuk ini ku berharap
Dengan angkuhnya ia tetap melangkah
Walau sudah ku teriakkan amarah
Tak sedikitpun berbelas kasih
Memberiku sedikit pembelaan atas penantian yang tak berakhir
Karena dia takkan pernah tahu
Seberapa besar telah mencoba
Seberapa lelah menanti
Takkan pernah ia berhenti
Walau hanya sekedar menoleh
Janjinya tepat pukul 18:00
Disaksikan ribuan bintang dan satu bulan
Mungkin galaksi lain ikut menyaksikan
Bahwa janjinya dibuat untuk ku menunggu
Tepat pukul 18:00
Sebelum menjadi gelap
Perpaduan warna jingga mengindahkan langit senja
Pesona warna yang tak pernah kualihkan
Waktu tak mengenal janji itu dan terus meninggalkan senja
Ketika ku masih menunggunya
Ketika ku masih mengharapnya
Walau tak sedetikpun bayangnya terlihat di kegelapan
Waktupun memberiku kelelahan
Diam-diam memperingati
Janji yang berbohong pada senja saat itu
Akan terus hilang dan memudar
Menjadi satu dengan gelapnya malam
0 komentar:
Posting Komentar