dia terdiam, tak mengeluarkan sepatah katapun, dan aku tau sebentar lagi dia akan melangkahkan kaki menjauh. sedetik, semenit, sejam kemudian, dia tak beranjak. tetap berdiri tegap di posisinya. aku mendongakkan kepala, melihat apa yang terjadi dan dia berkata, "selama apapun kamu tertunduk dan mencoba menghindar, kamu pasti akan menoleh dan kembali".
seketika aku menangis, tertunduk kembali. dia terdiam. tetap berdiri.
masih tertunduk, aku memberanikan berkata, "kamu makin tampan" dan dia menjawab, "aku tau" dengan dinginnya, dengan nada suara yang biasa dia lontarkan.
dia tetap tidak pergi, dan aku memutuskan untuk berdiri kemudian pergi menjauh. mulai berjalan, berjalan menjauhinya yang sekarang ada di belakangku. terus berjalan hingga di depanku muncul seseorang yang tersenyum indah kearahku. aku tersenyum, seakan kejadian sebelumnya hanyalah mimpi buruk. aku berjalan bersama dengan orang itu, bercanda dan tertawa bersama. lalu suatu ketika, aku menoleh ke belakang, hanya memastikan dia sudah pergi atau mungkin dia hanya sebuah ilusi, namun tidak. dia tetap berdiri, menatapku. dan seseorang di sebelahku mengatakan, "sudah aku duga, bagaimanapun kamu pasti akan menoleh ke belakang". aku tak pernah tau mengapa begitu sulit untuk tidak menoleh kearahnya. aku tidak tau mengapa begitu sulit untuk menghapus segala ingatan yang ada tentangnya.
aku tau, dia hanya ilusi. dia bahkan takkan pernah berdiri disitu, menatapku seperti itu, tidak akan pernah. karena dia sudah menghilang dengan dunianya, tenggelam bersama orang-orang yang mulai menyayangi dan dia sayangi. tapi mengapa rasanya kuat sekali untuk tidak melupakannya begitu saja. sakit yang telah kulalui bukan hanya sekedar sakit yang sederhana, dan itupun belum cukup untuk menjadi alasan aku pergi seutuhnya. ketika ku lalui duniaku begitu saja, diapun begitu saja datang dan pergi di duniaku. tanpa salam tanpa sepatah kata perpisahan.
entah, entah apalagi.
0 komentar:
Posting Komentar