Hitam pekat dalam lumuran tirai
palsu
Terdiam dia saat lagu terhenti
Terbitan langkah mentari sinari
dunia yang terlelap
Seperti alunan jejak melunggai
riang diatas pelangi
Kikis waktu yang makin memunah
Kuatkan kayu penghancur amanah
tanpa berdosa
Keringkan samaran tubuh dibalik
daun kecoklatan
Terbayang denting nada saat detik
mimpi mengulang
Raihan sebintik harap mengerjapkan
bintang bergelora
Menangis lemah diantara desir
rembulan
Sentuhan ombak mengiring dalam
buaian lembut senyuman
Sapa riang yang melekat hingga tak
terendam pujian adam
Goresan awan biru membuat lautan
dalam indahnya hari
Tebakan amarah telah menyandung
jatuhnya angin
Perih karangan puisi lenyapkan air
seolah tertidur lelah
Dalam rangkaian merdu melodi
serbuan para penghancur kelak
Tak ada bayangan yang mengirimkanku
pada sosok bahagia
Yang menjadikan waktu serasa tak
berharga hingga batu di depan mata
Rapuh menjatuhkan medali ke lorong
waktu depan
Menjepit panasnya raga menanti
keadaan tak terharap
Gairahkan rasa tak menggapai sebuah
cita
Saat ingin hidup mengalami gejolak,
petir nan sejuk menunggu
Hanya terpaku menatap kosong
menyendiri
Tak mengharap lagi ada langkah
mendekat
Jika tak ada sebuah ruang untukku
bersembunyi
Secercah harapan selamatkan jiwa
Saat menghampiri sosok orang yang
buatku berarti
Tak sangka hanya penggambar mimpi
Langkah menuju dunia sekejap
berubah neraka
Menyilaukan seluruh penghuni tak
tampak menghadiri
Menyeret seribu terbang, melambai
dan ucapkan selamat tinggal
Menuju ruang indah menembus waktu
yang berjalan
Ingatkah dirinya yang menangis
dibuang?
Tak seharusnya menjadikan korban jadi
bencana
Dendam lama menguras tenaga
Jangan salahkan kami yang tak tahu
apa-apa
Lari teriakan terus menjerit di
bawah sunyinya malam
Karena menghisap kelemahan sang
pendekar hitam
Tersungkur menghadap bintang, tunjuk
tersenyum kesekian kali
Saat itulah ia memejamkan mata
0 komentar:
Posting Komentar